Home Support & Promote Ruru Gallery JANG SOMBONG DIMAKAN ZAMAN, JANG SONGONG DIMAKAN TEMAN

Pada 2008 ruangrupa mengelola RURU Gallery, sebuah ruang yang mendukung kreativitas seniman, kurator, dan penulis muda melalui program pameran yang segar dan kritis. Dalam setahun RURU Gallery mengadakan enam pameran dengan sistem kuratorial, baik bagi pameran tunggal maupun kelompok yang melibatkan seniman dan kurator muda. Setiap pameran didukung publikasi berupa katalog, hubungan dengan media massa, serta penyediaan dana bantuan produksi karya bagi seniman. Karya-karya yang ditampilkan merupakan karya dengan gagasan menarik yang berhubungan dengan masyarakat kontemporer, tidak berorientasi komersial, dan terbuka untuk berbagai karya visual, seperti fotografi, video, instalasi, performans, komik, dan medium interaktif lainnya.

JANG SOMBONG DIMAKAN ZAMAN, JANG SONGONG DIMAKAN TEMAN

Pameran Tunggal oleh Bujangan Urban:
“JANG SOMBONG DIMAKAN  ZAMAN,
JANG SONGONG DIMAKAN TEMAN”
Grafiti, obyek, mural, instalasi

Kurator : Indra Ameng

Pembukaan pameran: Jum’at 4 Juli 2008 / 19.00 - selesai.
Pameran: 4 – 19 Juli 2008 / Senin - Sabtu / 11.00 – 21.00.

RURU Gallery
ruangrupa

Jl. Tebet Timur Dalam Raya No. 6, Jakarta Selatan 12820
t/f: +62 21 8304220
e-mail:  This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
www.ruangrupa.org

Terlahir dengan nama Risky Aditya Nugroho di sebuah pinggiran ibukota—tapi banyak orang lebih mengenalnya dengan nama Jablay. Pada 2003, Bujangan Urban mulai bergabung dengan Artcoholic, sebuah komunitas street art yang aktif merespon ruang-ruang publik di Jakarta. Karya- karya Bujangan Urban sendiri dapat ditemukan di ruang publik kota Jakarta berupa pesan-pesan personal dalam medium graffiti, mural, dan stensil.

Jablay menggunakan nama Bujangan Urban sebagai identitas untuk menandai setiap aksinya. Diawali ketertarikannya pada seni grafiti, ia memadukan latar belakang pendidikannya di jurusan bahasa dan desain grafis dalam karya-karyanya yang lebih berupa pesan-pesan personal dalam bentuk teks. Karyanya bisa ditemui di banyak ruang-ruang publik kota Jakarta, diantaranya adalah grafiti dengan teks “Bujangan Urban Terbangun dari Mimpinya.”

Teks-teks yang dibuatnya lebih menyerupai puisi, yang kita temukan secara tidak sengaja terserak di jalanan seperti coret-coretan iseng anonim. Seperti puisi atau coretan yang bisa ditemui di WC umum, di dalam sekat Wartel dan Warnet ataupun di dalam bis kota. Kekuatan dari karya-karya Bujangan Urban ini tersimpan pada teksnya. Pada kejahilannya bermain kata-kata, juga dari gaya bahasanya. Ia seakan berkomunikasi dengan warga kota lewat pesan-pesan personalnya ini. Identitas yang dibuatnya dengan nama Bujangan Urban juga bersifat anonim. Karena identitas yang dibuatnya bisa  mewakili siapapun, selama orang itu masih bujangan, dan tentunya tinggal di kota. Melalui karya-karyanya ini, Bujangan Urban menggunakan seni grafiti untuk berkomunikasi dengan sesama warga kota.

Dalam pameran tunggalnya di RURU Gallery ini, Bujangan Urban menanggapi ruang galeri dengan tulisan-tulisan khasnya pada berbagai medium. Di tembok, lantai, dan juga obyek, yang kebanyakan menggunakan benda-benda sehari-hari yang lekat dengan hobi anak muda kota masa kini, seperti papan skate, mainan, badan vespa, dan piringan hitam. Pesan-pesan yang dituliskannya mungkin tanpa makna, tapi bisa menggugah kesadaran ataupun paling tidak bisa membuat kita tersenyum.

 

Last Updated (Friday, 12 March 2010 23:07)

 


Tebet Timur Dalam Raya, no.6
Jakarta Selatan
12820
INDONESIA
p/f: +62-21-830.4220
e-mail: info@ruangrupa.org